Kamis, 12 Februari 2015

Ini Tentangmu

Di sepertiga malam ini aku masih terjaga. Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali memikirkan dia. Seorang pria sederhana, yang sudah mampu membuat aku jatuh cinta.
Sebenarnya aku sering merasakan ini, Merasakan jatuh cinta. Tapi sungguh, kali ini sangatlah berbeda. Dia memang berbeda dari beberapa pria yang aku kenal sebelumnya. Dia sangat menyebalkan, tapi dia juga sangat menyenangkan.

Aku sudah memiliki dia, tapi belum seutuhnya. Kenapa belum seutuhnya?
Yaaa, itu, karna kita hanyalah sebatas kekasih. Layaknya kaula muda kebanyakan. Aku menganggap dia adalah orang terdekat yang sekarang sudah menjadi kandidat untuk pendampingku kelak. Hingga nanti dia benar-benar resmi menjadi milikku seutuhnya.


Disini, aku akan banyak menceritakan Perjalananku sampai bisa sedekat ini dengannya.
Dia adalah teman masa SMP-ku. Sejujurnya, saat smp, dia tidak dekat denganku, meski kami sekelas. Menyapaku pun dia hampir tidak pernah. Yaaaa, anggap saja kalau dia memang tidak tertarik padaku. Ahhh sudahlah, ini tidak perlu diceritakan. Karna memeng masa SMP adalah saat aku benar-benar Cupu sekali. Wajar jika dia tidak berminat bermain denganku. Atau mungkin, aku yang tidak pandai bersosialisasi dengan teman-teman. Ahhhh sudah-sudah. Aku tak ingin menceritakan ini.

Setelah lulus SMP, aku sempat bertemu dengannya beberapa kali. Dalam acara reouni kelas yang di adakan oleh teman seangkatanku. Saat itu pun dia masih benar-benar cuek padaku. Yasudahlahhh, lagi pula, siapa aku, sampai aku ingin sekali diperhatikan olehnya.

Waktu terus berlalu, hingga beberapa tahun aku tak lagi bertemu dengannya.
Sekarang aku dan dia sudah lulus SMA sudah hampir 2 tahun lebih. Sudah lama juga ya ternyata, Setelah mengingat bahwa dulu aku pernah sekelas dengannya di SMP. Tapi, Sebenarnya, aku masih belum percaya  kalau aku sekarang bisa menjadi sedekat ini dengannya. Ini semua, berawal dari sebuah undangan reoni SMP setahun yang lalu.

Yaaaa, aku mendapat sebuah undangan reoni akbar untuk angkatanku, aku mendapat undangan itu darinya melalui MedSos. Tentu aku dengan antusias merespon acara itu, karna memang aku sendiripun rindu sekali dengan teman-teman SMPku. Nahh, dari sini lah aku bisa bertemu dengannya lagi, aku sering menanyakan info reoni itu kepadanya. Hingga akhirnya aku membuat janji untuk bertemu dengannya, membicarakan perihal biaya acara reoni tersebut.

Hahahahaa, dia terlihat lebih dewasa ya sekarang. berbeda dengan yang terakhir ku lihat. Itu kesan pertamaku saat melihatnya. Tapi sungguh, aku sama sekali belum menyukainya. SAAT ITU. Kami bertemu, akupun membayar biaya reoni tersebut. Saat itu kami belum mempunyai kontak masing-masing. Cara berhubungan kami hanyalah lewat media sosial. Entah apa yang terjadi, entah ada masalah apa. Kurang lebih seminggu sebelum acara reoni itu di adakan. Dia mengabariku melalui medsos, Ternyata reoni di batalkan. Arggggghhhhh PARAH, ujarku dalam hati. Dia meminta no tlp ku untuk memberikan info pengembalian uang. Yaaaa sebenarnya dari sini lah aku dan dia sudah saling bertukar no tlp, tanpa sadar. Dan sampai sekarang pun dia masih mengelak kalau dia duluan lah yang meminta no tlp ku. 

Setelah kejadian reoni yang gagal itu berlalu, dia jadi lebih sering menghubungiku di media sosial. Mulai dari chat ga jelas, komentar ga jelas, sampai modus-modus ga jelas. karna Sebenarnya aku tidak menyimpan no dia, waktu itu. Jadi aku memang tidak pernah sms atau komunikasi dengan dia melalui hp. Dia lebih sering menyapaku di media sosial.
Hingga sampai pada suatu saat, hp ku berbunyi, dan mendapat sms kosong, atau berisi kata-kata ga jelas. aku mengabaikannya, dan terus mengabaikannya. Sampai aku kesal karna sms-sms yang ga tau maksudnya itu apa. Akhirnya, Akupun membalas, menanyankan tentang siapa dia. Dia menjawab kalau dia adalah mantanku. Aku terus bertanya, sampai dia mengakui identitas aslinya. akhirnya dia jujur dan berkata, kalau dia adalah HSF.

Yampunnnnnnn HSF.
aku sempat memarahinya terlebih dahulu, karna sudah mengerjaiku dengan mengaku-ngaku mantanku, sebelum akhirnya kami mengobrol via hp.
Semakin hari, aku semakin dekat dengannya. Dia ternyata memang menyenangkan, lucu kalau sedang mendengarkan curhatannya. Tapi tak jarang juga dia membuatku sebal dengan guyonan garingnya. Entah kapan, aku lupa. Saat itu, Kami mulai sering bercerita perihal perasaan. Menceritakan tentang orang yang sama-sama kita sayang, menceritakan tentang pahitnya menjadi orang yang ditinggalkan, sampai sering aku lupa waktu kalau sudah mengobrol dengannya.

Singkat cerita.
Entah rasa apa yang dia rasakan waktu itu, sampai dia bisa menjadi seorang yang  perhatian, dan sangat peduli sekali padaku. Tapi, aku tetap merespon biasa hal itu. Karna memang aku hanya menganggapnya kalau dia memang sedang membutuhkan teman. Dan aku hanya menganggapnya sebagai teman.
Sudah hampir berbulan-bulan aku dan dia menjadi teman dekat, kamipun sudah beberapa kali jalan bareng, sekedar menghilakan jenuh. Tapi, aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan dia, tepatnya dengan perasaan dia kepadaku. Dia sering sekali menyatakan perasaannya padaku. Tapi, aku terus berusaha mengalihkannya dengan candaan atau gurauan.

Aku ga mau, aku sudah nyaman dengan rasa ini. Aku ga mau rasa nyaman ini jadi berubah kalau status pertemanan kitapun ikut berubah. Itu lah yang selalu aku fikirkan. Sebenarnya. Mulai dari awal aku jalan bareng dengannya malem itu. Aku sudah merasakan ada yang berubah juga pada perasaanku, tapi, aku takut untuk mengatakannya. Aku takut rasa nyaman yang seperti sekarang akan berubah, jika aku menjalin hubungan dengannya.

Mungkin dia sudah bosan membicarakan tentang perasaannya, perasaan yang nyaman ketika denganku.
Dia terus meyakinkan bahwa dia benar-benar ingin bisa bersamaku lebih lama. Dia menyayangiku, dia ingin menjadi seseorang yang special untukku. di setiap ada kesempatan, dia selalu saja bicara seperti itu.

Lalu aku memberi tahukan padanya, tentang keraguanku. saat itu dia sempat memasang wajah muram. tapi, lagi-lagi, dengan konyolan dan tanpa kapoknya, dia bilang, dia mau menunggu sampai aku mau membuka hatiku untuknya.

***

Bersambung........



3 komentar:

  1. tapi lebih baik jadi teman aja, karena takutnya suatu saat putus malah berjauhan . kalau teman itu tidak akan putus2..

    BalasHapus
  2. Baru mampir udah suka sama tulisannya :)

    www.fikrimaulanaa.com

    BalasHapus
  3. pantang menyerah, hehehe,

    BalasHapus

makasih atas kunjungan dan komentarnya.
makasih juga udah ga nyampah di sini
di tunggu kunjungan berikutnya :)